0

Istilah sosiologi berasal dari Bahasa Latin dan Yunani. Asal katanya adalah socius dan logos. Socius (Latin) berarti kawan tetapi dalam arti luas masyarakat. Sementara itu, logos (Yunani) berarti kata atau berbicara. Dalam ilmu sosiologi terdapat teori-teori digunakan untuk memberikan penjelasan mengenai gejala sosial. Istilah ‘sosiologi’ sendiri pertama kali digunakan oleh Auguste Comte (1798-1859). Berikut ini merupakan beberapa tokoh yang menjelaskan mengenai disiplin ilmu antropologi, antara lain:

  • Comte, menjelaskan bahwa sosiologi adalah ilmu tentang gejala sosial yang tunduk pada hukum alam dan tidak berubah-ubah.
  • Pitirim A. Sorokin, yang menyatakan bahwa sosiologi mempelajari hubungan dan pengaruh timbal-balik antara aneka macam gejala-gejala sosial. Misalnya antara gejala ekonomi dan agama, keluarga dan moral, hukum dan ekonomi, serta masyarakat dan politik.
  • Emile Durkheim, pokok bahasan sosiologi adalah fakta-fakta sosial. Fakta sosial adalah pola-pola atau system yang mempengaruhi cara manusia bertindak, berpikir dan merasa. Fakta sosial tersebut berada di luar individu. Fakta sosial mempunyai kekuatan memaksa atau mengendalikan individu tersebut.

Ciri-Ciri Sosiologi

Sosiologi sendiri memiliki perbedaan dengan pengetahuan umum, misalnya saja para sosiolog yang menggunakan imajinasi sosial. Mereka memandang kehidupan masyarakat sehari-hari lewat cara pandang yang berbeda. Kedua, para sosiolog melihat bukti-bukti dari suatu isu sebelum membuat kesimpulan. Dengan demikian, ilmu sosiologi berarti ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Sosiologi bersifat Empiris. Berdasarkan hasil observasi (pengamatan)
  • Sosiologi bersifat Teoritis. Berusaha menyusun abstraksi dari hasil observasi
  • Sosiologi bersifat Kumulatif. Teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori-teori yang sudah ada sebelumnya dalam arti memperbaiki, memperluas dan memperhalus teori-teori lama.
  • Sosiologi bersifat Non-Etis. Tidak mempersoalkan baik buruk suatu fakta, tetapi menjelaskan fakta-fakta tersebut secara analitis.

Sifat-Sifat yang dimiliki Sosiologi

Dalam kajiannya, soosiologi memiliki beberapa sifat, antara lain adalah sebagai berikut:

  • Sebagai ilmu sosial dan displin ilmu
  • Sebagai lmu pengetahuan murni
  • Sebagai ilmu pengetahuan umum
  • Sebagai ilmu pengetahuan abstrak
  • Sebagai ilmu pengetahuan empiris dan rasional

Objek Kajian Sosiologi

Objek kajian dalam sosiologi adalah masyarakat. Berikut ini merupakan objek kajian sosiologi menurut beberapa tokoh, antara lain:

  • Selo Soemardjan, menjelaskan bahwa masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
  • L Gillin dan J. P Gillin, mengatakan bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar. Mereka mempunyai kebisaaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama.
  • Ralf Linton, menjelaskan bahwa masyarakat merupakan suatu kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja sama dalam waktu yang cukup lama.

Unsur-Unsur Sosiologi

Objek kajian yang ada dalam sosiologi memiliki beberapa unsur yang terkandung didalamnya, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Sejumlah manusia yang hidup bersama dalam waktu yang relative lama. Di dalamnya, manusia saling mengerti, merasa, dan mempunyai harapan-harapan sebagai akibat dari hidup bersama itu.
  • Memiliki system komunikasi dan peraturan yang mengatur hubungan antarmanusia dalam masyarakat
  • Manusia yang hidup bersama merupakan suatu kesatuan
  • Manusia yang hidup bersama merupakan suatu system hidup bersama, yang menimbulkan kebudayaan dimana setiap anggota masyarakat merasa dirinya masing-masing terikat dengan kelompoknya.

Dalam mempelajari masyarakat sebagai objek kajian, sosiologi memfokuskan studinya pada hal-hal seperti hubungan timbal-balik antara manusia satu dan manusia lainnya, hubungan antara individu dan kelompok. hubungan antara kelompok yang satu dan kelompok lainnya, proses yang timbul dari hubungan-hubungan tersebut dalam masyarakat. secara umum, sosiologi berfokus pada studi tentang perilaku manusia dalam masyarakat. Namun demikian, para sosiolog umumnya memiliki pendekatan yang berbeda-beda dalam melihat objek sosiologi. Ada sosiolog yang mungkin lebih tertarik untuk mengupas tentang perilaku menyimpang pada manusia (sosiologi criminal), ada juga yang mungkin lebih tertarik mengupas tentang aspek politik dari kehidupan sosial masyarakat (sosiologi politik). Ketertarikan yang berbeda-beda tersebut menumbuhkan berbagai spesialisasi dan subilmu dalam sosiologi. Dalam sosiologi mengenal dua macam metode ilmiah yaitu metode kualitatif (dipakai apabila subjek penelitian tidak dapat diukur) dan metode kuantitatif (mengutamakan keterangan berdasarkan angka-angka atau gejala-gejala yang diukur dengan skala, indeks, table, atau uji statistic).

Fungsi dan Peran Sosiologi

Sebagai suatu ilmu, sosiologi mempunyai fungsi dan peran sebagai berikut:

  1. Fungsi atau kegunaan sosiologi
  2. Untuk pembangunan. Sosiologi berfungsi untuk memberikan data sosial yang diperlukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian pembangunan.
  3. Untuk penelitian. Dengan penelitian, akan diperoleh suatu rencana penyelesaian masalah sosial yang baik.
  4. Peran Sosiologi
  5. Sosiolog sebagai ahli riset. Para sosiolog melakukan riset ilmiah. Tujuannya adalah mencari data kehidupan sosial masyarakat.
  6. Sosiolog sebagai konsultan kebijakan. Prediksi sosiologi dapat membantu memperkirakan pengaruh kebijakan sosial yang mungkin terjadi.
  7. Sosiolog sebagai praktisi. Beberapa sosiolog terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan masyarakat.
  8. Sosiolog sebagai guru atau pendidik

Manfaat Sosiologi

Selain memiliki fungsi dan peranan, dalam mempelajari sosiologi juga memiliki manfaat, antara lain:

  1. Dapat memberikan pengetahuan tentang pola interaksi yang terjadi dalam masyaraka.
  2. Membantu masyarakat dalam mengontrol atau mengendalikan tindakan dan perilaku anggota dalam kehidupan masyarakat.
  3. Mampu mengkaji status dan peranan anggota masyarakat, serta dapat menilai masyarakat atau budaya lain.
  4. Memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai nilai, norma, tradisi dan keyakinan yang dianut masyarkat lain.
  5. Memahami perbedaan yang ada.
  6. Membuat generasi penerus bangsa lebih tanggap, kritis, dan rasional dalam menghadapi gejala sosial dalam masyarakat yang makin kompleks.

 

Konflik, Kekerasan, dan Upaya Penyelesaiannya

Previous article

Konsep wilayah dan Perencanaan Pembangunan

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.