0

Primordialisme merupakan pandangan atau paham yang menunjukan sikap berpegang teguh dengan hal-hal yang sejak semula melekat pada diri individu, seperti suku bangsa, ras, dan agama. Jadi primodialisme dapat diartikan sebagai ikatan-ikatan utama seseorang dalam kehidupan sosial, dengan hal-hal yang dibawanya sejak lahir seperti suku bangsa, ras, klan, asal usul kedaerahan, dan agama.

Primodialisme dapat terjadi karena faktor-faktor berikut:

  1. Adanya sesuatu yang dianggap istimewa oleh individu dalam suatu kelompok atau perkumpulan sosial tertentu
  2. Adanya satu sikap untuk memperthankan keutuhan suatu kelompok atau kesatuan sosial dari ancaman luar
  3. Adanya nilai-nilai yang berkaitan dengan sistem keyakinan, seperti nilai keagamaan dan pandangan

Etnosentrisme

Primodialisme yang berlebih juga dapat menghasilkan sebuah pandangan subjektif yang disebut etnosentrisme atau fanatisme suku bangsa. Etnosentrisme adalah suatu sikap menilai kebudayaan masyarakat lain dengan menggunakan ukuran-ukuran yang berlaku dalam masyarakat.
Contoh sikap etnosentrisme pernah terjadi di Afrika Selatan pada masa diberlakukannya politik apartheid. Masyarakat beranggapan bahwa kulit putih lebih derajatnya dari kulit hitam.

Segi positif dari etnoentrisme diantarannya:

  1. Dapat menjaga keutuhan dan kestabilan budaya
  2. Dapat mempertinngi semangat patriotisme dan kesetiaan bangsa
  3. Dapat memperteguh rasa cinta terhadap kebudayaan bangsa

Politik Aliran (Sektarian)

Pengaruh lain dari kemjemukan masyarakat adalah terjadinya politik sektarian atau politik aliran. Politik aliran merupakan keadaan dimana sebuah kelompok atau organisasi tertentu dikelilingi oleh sejumlah organisasi massa (ormas) baik formal maupun informal. Tali pengikat antara organisasi massa ini adalah ideologi atau aliran (sekte) tertentu.

Pengertian Konflik secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (atau juga kelompok) yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Konflik termasuk bentuk integrasi sosial yang bersifat disosiatif. Selain konflik, terdapat juga persaingan atau kontroversi.
John Lewis Gillin dan John Philip Gillin membuat konflik sebagai bagian dari proses interaksi manusia yang saling berlawanan (oppositional proces). Artinya konflik adalah bagian dari sebuah proses interaksi sosial yang terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan fisik, emosi, kebudayaan dan perilaku.

Faktor-faktor Penyebab Konflik

  1. Perbedaan antarindividu
  2. Perbedaan kebudayaan
  3. Perbedaan kepentingan
  4. Perubahan sosial

Dampak Sebuah Konflik

Meskipum konflik sosial merupakan proses disosiatif yang mengarahkan kemungkinan terjadinya kekerasan, konflik juga merupakan suatu proses social yang mempunyai segi positif bagi masyarakat. Konflik dikatakan positif bila tidak bertentangan dengan pola-pola hubungan social didalam struktur sosial.

Segi positif suatu konflik antara lain:

  1. Konflik dapat memperjelas aspek-aspek kehidupan yang belum jelas atau masih belum tuntas ditelaah.
  2. Konflik memungkinkan adanya penyesuaian kembali norma-norma, nilai-niali, serta hubungan sosial dalam kelompok bersangkutan dengan kebutuhan individu atau kelompok.
  3. Konflik meningkatkan solidaritas antar anggota kelompok (in-group solidarity) yang sedang mengalami konflik dengan kelompok lain.
  4. Konflik merupakan jalan untuk menguragi ketergantungan antarindividu atau kelompok
  5. Konflik dapat membantu kembali menghidupkan norma-norma lama dan menciptakan norma baru.
  6. Konflik dapat berfungsi sebagai sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan yang ada didalam masyarakat.

Segi negatif suatu konflik antara lain:

  1. Keretakan hubungan antarindividu dan persatuan kelompok.
  2. Kerusakan harta benda dan jatuhnya korban
  3. Berubahnya sikap kepribadian antarindividu, baik yang mengarah pada hal-hal positif ata negative. Sebagai contoh, konflik menimbulkan rasa benci, curiga, atau menjadikan perkelahian sebagai solusi atas permasalahan dalam kelompok remaja atau anak-anak.
  4. Munculnya dominasi kelomok pemenang atas kelompok yang kalah.

Teori-Teori Tentang Kekerasan

  1. Teori Faktor Individual : Beberapa ahli berpendapat bahwa setiap perilaku kelompok, termasuk perilaku kekerasan, selalu berawal dari perlaku individu. Factor penyebab perilaku kekerasan adalah factor pribadi dan factor sosial.
  2. Teori Faktor Kelompok : Beberapa ahli mengemukakan pandangan bahwa individu cenderung membentuk kelompo yang mengedepankan identitas berdasarkan persamaan ras, agama, atau etnis. Identitas kelompok inilah yang dibawa ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain. Beberapa benturan antar kelompok yang berbeda sering menimbulkan kekerasan.
  3. Teori Dinamika Kelompok : Menurut teori ini, kekerasa timbul karena adanya deprifasi relative (kehilangan rasa memiliki) yang terjadi dalam kelompok atau masyarakat. Artinya, perubahan sosial yang etrjadi sedemikian cepat dalam sebuah masyarakat dan tidak mampu ditanggapi dengan seimbang oleh system sosial dan masyarakatnya. Perkembangan pengaruh perubahan itu berlangsung sangat cepat dan tidak seiring dengan perubahan atau perkembangan dalam masyarakat.

Smartphone Terbaru dengan Harga Cuman 1 Jutaan

Previous article

Fungsi Sosiologi untuk Mengenali Gejala Sosial di Masyarakat

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *