0

Alkisah di Kalimantan Selatan, berdirilah Kerajaan Amuntai. Rakyatnya hidup damai sejahtera di bawah pemerintahan dua pemimpin, Raja Patmaraga dan adiknya, Raja Sukmaraga.

Kedua raja itu memerintah dengan adil, saling menghargai, serta hidup rukun. Namun ada satu hal yang mengurangi kebahagiaan mereka, yaitu mereka belum dikaruniai anak.

Sang adik, Raja Sukmaraga dan istrinya, sangat mendambakan putra kembar. Dan mereka terus-menerus memintanya dalam doa. Akhirnya, Tuhan mengabulkan doa mereka. Raja Sukmaraga sangat bahagia, setiap malam ia mengelus perut istrinya sambil berkata, “Semoga anak di kandunganmu ini putra kembar yang cakap.”

Istrinya hanya tersenyum tapi dalam hati mengiyakan harapan itu. Setelah mengandung sembilan bulan, lahirlah putra kembar yang tampan. Raja Sukmaraga mengumumkan berita bahagia itu pada kakaknya dan seluruh rakyat.

Raja Patmaraga juga turut berbahagia atas kelahiran kemenakannya itu. Namun dalam hati, ia sangat sedih. Ia juga ingin dikaruniai anak. Tak harus sepasang anak laki-laki, anak perempuan pun akan ia terima dengan suka cita.

Raja Patmaraga berdoa, memohon petunjuk Tuhan. Ia mendapat jawaban lewat mimpi. Dalam mimpinya, Raja Patmaraga diminta untuk bertapa di Candi Agung yang berlokasi di luar Kerajaan Amuntai. Esok harinya, tanpa menunda-nunda lagi, Raja Patmaraga berangkat bersama beberapa pengawal dan tetua istana, Datuk Pujung.

Di sana, Raja Patmaraga segera bertapa selama bebera a hari. Meski pun belum mendapat petunjuk, la yakin Tuhan akan mengabulkan doanya. Benar saja dalam perjalanan pulang, Raja Patmaraga melewati sungai. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang bayi perempuan yang sangat cantik terapung-apung di sungai itu.

“Apa itu? Apakah aku tak salah lihat? Bagaimana bisa ada bayi di sini?” tanyanya dalam hati.

Dengan sangat hati-hati, ia mengangkat bayi itu. “Datuk Pujung, bantulah aku menggendong bayi ini.”

Dengan sigap Datuk Pujung mengambil bayi itu dari pelukan Raja Patmaraga. Betapa herannya mereka, bayi itu tidak menangis melainkan berbicara!

Mereka ternganga mendengar kata-kata yang terucap dari mulut bayi itu, “Jangan bawa aku seperti ini. Mintalah 40 wanita cantik untuk menjemputku. Satu lagi, aku tak bisa ikut dalam keadaan telanjang seperti ini. Kalian harus menyediakan selembar selimut yang ditenun dalam waktu setengah hari saja.”

Raja Patmaraga segera memerintah Datuk Pujung untuk kembali ke istana dan mengadakan sayembara untuk mendapatkan selimut yang diminta bayi itu. Selain itu, ia juga harus mengumpulkan 40 wanita cantik.

“Pengumuman, Raja Patmaraga sedang menunggu kita. Barang siapa mampu menenun selembar selimut untuk bayi dalam waktu setengah hari, akan diangkat menjadi pengasuh bayi,” kata Datuk Pujung

Mendengar pengumuman itu, rakyat gaduh dengan bisikan-bisikan yang menanyakan siapa kira-kira yang mampu menenun selembar selimut dalam waktu setengah hari. Para wanita mulai bekerja. Mereka menggunakan benang terbaik.

Namun sampai waktu yang ditentukan, tak seorang pun yang selesai. Datuk Pujung nyaris putus asa, ketika tiba-tiba seorang wanita menghampirinya.

“Tuanku, ini selimut hasil tenunan saya. Periksalah dengan cermat apakah selimut ini cukup untuk menyelimuti bayi Raja Patmaraga?” katanya sambil menyerahkan selembar selimut yang dilipat rapi.

Datuk Pujung membuka lipatan selimut tersebut dan “Waaahhhhh… indah sekali selimut itu,” gumam para wanita yang berkerumun di sekitar Datuk Pujung.

“Siapakah namamu? Aku rasa kau pantas menjadi pengasuh bayi Raja Patmaraga,” kata Datuk Pujung.

“Nama saya Ratu Kuripan. Saya akan sangat senang jika Raja Patmaraga berkenan menjadikan saya pengasuh untuk putrinya,” jawab wanita itu.

Datuk Pujung, Ratu Kuripan, don 40 wanita cantik berangkat menjemput Raja Patmaraga. Bayi itu dibungkus dengan selimut buatan Ratu Kuripan.

“Cantik sekali. Karena kau kutemukan terapung di atas buih-buih, maka kau kunamakan Putri Junjung Buih,” kata Raja Patmaraga.

Bayi itu tersenyum, seolah setuju dengan Raja Patmaraga. Kebahagiaan rakyat Amuntai telah Iengkap bersama dua raja dan putra-putri mereka. Negeri itu hidup damai dan bahagia. (Referensi: dongengceritarakyat.com)

ULASAN: Keluarga Cemara – Kehangatan Keluarga Sederhana

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *